Tambang Emas Martabe … (2)

Selesai menandatangani agreement kerja, saya diantar oleh Yanti (staf HRD) ke camp permata tempat kantor Community Relation berada. Sampai di kantor saya disambut oleh Bpk Stevi Thomas dan Budi Baik Siregar kemudian diperkenalkan dengan Rina Simanjuntak, Muhammad Novan, Sugeng Maskat alias Sogi, Maya, dan Agustinus. Senang sekali bisa bergabung dengan tim ini yang kelihatan kompak dan solid. Hari itu diisi dengan ngobrol dan diskusi mengenai kondisi saat ini di lokasi. Suasananya memang berbeda saat saya pertama kali site visit ke sini sekitar bulan Februari 2012.

Menjelang berakhirnya jam kerja saya dan beberapa rekan kerja masih tetap di kantor dan akhirnya kami makan malam di kantor Comrel. Selesai makan, saya beranjak menuju tempat peraduan di Camp Permata tepatnya di PC 13. Lelah rasanya hari ini perjalanan dari Medan sampai ke Batangtoru, ingin rasanya segera meletakkan tubuh ini ke tempat peraduan yang sudah disiapkan. Setelah mandi dan shalat Isa, saya menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama kemudian segera memejamkan mata, berharap tubuh ini bisa segar kembali untuk kembali kerja esok hari.

Bunyi alarm pukul 4.45 dari smart phone saya berdering membangunkan saya dari peraduan. Sedikit meregangkan tubuh tangan dan kaki kemudian ngambil perlengkapan mandi bergegas menuju kamar mandi. Walaupun pagi hari begitu dingin, saya memutar kran shower air dingin dan air panas agar airnya menjadi hangat. Segar sekali pertama kali tubuh ini tersiram oleh air hangat, menyatukan jiwa saya, dan bersemangat. Segera kuselesaikan acara mandi pagi tidak lupa gosok gigi dan ambil air wudhu. Kembali ke kamar, memakai baju yang kubawa dari rumah karena seragam kerja belum kudapatkan dari perusahaan. Shalat subuh di kamar, kemudian memakai sepatu sport adidas yang kubawa sendiri dan bergegas ke kantor. Tidak lupa air mineral yang disiapkan di kamar ku minum untuk melegakan tenggorokan yang kering ini.

Hari kedua saya ditempat kerja yang baru, sekitar jam 5.50 sudah stand by di kantor karena jam kerja dimulai jam 06.00. Di camp Permata tidak disediakan untuk sarapan jadi harus ke camp Pelangi, sedangkan untuk ke camp Pelangi diperlukan kendaraan padahal tidak ada kendaraan khusus yang mengantar ke sana. Jadilah pagi itu tidak sarapan, hanya buat minuman milo tanpa gula kesukaan saya. Setelah karyawan pada berdatangan, pukul 6.30 semua karyawan Comrel mengikuti meeting pagi. Ini kayaknya memang tradisi atau kebiasaan di perusahaan tambang selalu ada meeting pagi yang bertujuan untuk mengupdate informasi dan membicarakan apa yang akan dikerjakan. Selesai meeting, Maya yang baik hati ternyata sudah menyediakan roti dan membagikan kepada karyawan yang mau, alhasil pagi itu sarapan dengan roti pemberian Maya. Thanks ya Maya, ternyata Maya ini dikenal sebagai Kepala Urusan Rumah Tangga atau Manager pantry he..he.. karena stock roti dan makanan banyak di tempatnya. … (to be continued)

Penghentian operasi tambang emas Martabe (terbaru)

Dengan hormat,

Saya ingin menyampaikan informasi perkembangan situasi yang sedang dihadapi perusahaan saat ini. Hingga saat ini pemasangan pipa tetap tidak dapat dilaksanakan. Meskipun demikian perusahaan terus melakukan negosiasi dengan mengedepankan komunikasi, sosialisasi dan diskusi dengan berbagai lapisan masyarakat dan perangkat pemerintah terkait untuk mencari solusi yang saling menguntungkan semua pihak.

Perusahaan juga mengharapkan partisipasi semua staff untuk membantu perusahaan dalam upaya meneruskan, menyebarluaskan informasi yang benar dan akuratyang diperoleh dari berbagai sesi training dan sosialisasi tentang pipa air olahan kepada pasangan suami/istri, anak, orang tua, reka dan handai taulan yang berada di wilayah Batangtoru dan sekitarnya. Hal ini akan membuat semakin banyak pihak dapat mengerti fakta mengenai sistem pengolahan air kita dan mengurangi issue dan informasi yang salah yang telah disebarkan oleh orang lain. Peran dan kontribusi setiap staff  dalam mensukseskan seluruh rangkaian upaya adalah sangat penting!

Sekali lagi, tanpa penyelesaian masalah pipa, maka perusahaan tidak punya pilihan, selain terus melanjutkan penghentian operasi tambang dan aktivitas pendukung terkait secara bertahap sesuai rencana.

  • Tidak ada pipa
  • Tidak ada produksi emas
  • Tidak ada uang
  • Tidak ada Martabe
  • Tidak ada pekerjaan

Meskipun perusahaan memahami kegelisahan staff terkait tekanan akan proses penghentian ini, pengurangan overtime dan ketidakpastian akan pekerjaan, perusahaan tidak dapat menghalangi staff yang secara pribadi ingin menggunakan haknya untuk menyampaikan aspirasi, ketidakpuasan atau protes kepada pihak lain, namun perusahaan menyerukan agar semua upaya penyampaian aspirasi dilakukan sesuai dengan hukum yang berlaku, secara damai, tidak membahayakan keselamatan diri maupun ketertiban dan keamanan publik. Jangan mudah terpancing isu atau provokasi yang dapat menyebabkan konflik diantara rekan kerja dan anggota masyarakat.

Bila staff memiliki ide-ide konstruktif untuk menyuarakan aspirasi demi membantu perusahaan menjangkau dan meyakinkan masyarakat, silahkan sampaikan kepada atasan masing-masing. Sekali lagi, terima kasih untuk dukungan seluruh staff dalam masa sulit ini. Mari kita saling percaya, tetap bersatu, dan tetap berkomitmen untuk masa depan Martabe. Perusahaan juga memiliki komitmen yang kuat untuk terus menjalankan tambang emas martabe bertahun-tahun ke depan, dan kita berusaha mendapatkan solusi terbaik untuk mewujudkan semua ini.

Terima kasih

Penghentian Operasi Tambang Emas Martabe

Dengan hormat,

Seperti yang sudah kita ketahui, batas waktu sepuluh hari yang diberikan Perusahaan kepada Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara guna membantu menyelesaikan masalah pipa sudah berakhir. Hingga hari ini pemasangan pipa tetap tidak dapat dilaksanakan. Tanpa penuntasan pemasangan pipa, tambang emas Martabe tidak dapat beroperasi. Tambang tidak memproduksi emas,  dan tidak menghasilkan uang. Akibatnya perusahaan tidak punya pilihan selain menghentikan operasi tambang dan aktivitas pendukung terkait secara bertahap. Kondisi akhir inilah yang sebenarnya berusaha dihindari, karena itu selama beberapa waktu, Perusahaan terus melakukan negosiasi dengan mengedepankan komunikasi, sosialisasi dan diskusi dengan berbagai lapisan masyarakat dan perangkat pemerintah terkait untuk mencari solusi yang saling menguntungkan semua pihak.

Namun kenyataannya, penolakan sebagian kecil anggota masyarakat yang mengklaim sebagai sura masyarakat tetap menghalangi pemasangan pipa yang sangat menentukan kelanjutan operasi kita. Dengan sangat menyesal, manajemen harus mengambil keputusan sulit untuk menghentikan aktivitas operasional tambang. Keputusan ini tentunya akan mengakibatkan pengurangan pendapatan over time, pemutusan hubungan kerja (PHK), pengurangan karyawan dan dibekukannya pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat, termasuk pengembangan potensi-potensi ekonomi lokal yang sudah mulai dipetik manfaatnya oleh masyarakat luas di sekitar tambang.

Perusahaan tidak memiliki sumber dana tidak terbatas untuk dapat terus menanggung biaya tenaga kerja, biaya operasional, dan program-program laintanpa berjalannya tambang dan produksi emas. Perusahaan masih berharap masalah pipa ini segera menemukan titik cerah, sehingga perusahaan dapat kembali bergerak menghidupkan operasi tambang, meskipun upaya memulai kembali operasi bukanlah proses yang sederhana. Perusahaan snagat menghargai dukungan dan dedikasi tinggi staff selama ini. Manajemen akan berupaya semaksimal mungkin agar seluruh rangkaian proses terkait ketenagakerjaan (pemutusan hubungan kerja dan pengurangan karyawan)  berlangsung dengan baik dan benar-benar sesuai dengan peraturan ketenagakerjaan yang berlaku.

Perusahaan tidak dapat menghalangi staf yang secara pribadi ingin menggunakan haknya untuk menyampaikan aspirasi, ketidakpuasan atau protes kepada pihak lain, namaun perusahaan menyerukan agar semua upaya penyampaian aspirasi dilakukan secara damai, tidak membahayakan keselamatan dirimaupun ketertiban dan keamanan publik. Jangan mudah terpancing isu atau provokasi yang dapat menyebabkan konflik di antara rekan kerja. Sekali lagi, terima kasih untuk dukungan seluruh staff dalam masa sulit ini. Kita harus yakin, kita akan menemukan jalan keluar dari kesulitan ini dan membangun tambang emas martabe seperti kita cita-citakan, dan membawa keuntungan bagi smeua pemangku kepentingan.

Saling percaya, tetap bersatu dan tetap berkomitmen untuk masa depan Martabe. Perusahaan juga memiliki komitmen kuat untuk terus menjalankan tambang emas Martabe bertahun-tahun ke depan, dan kita berusaha mendapatkan solusi terbaik untuk mewujudkan ini semua.

Tambang Emas Martabe … (1)

Pada hari Minggu, tanggal 30 September 2012 saya mulai berada di Martabe setelah terbang selama kurang lebih 45 menit ke bandara DR. Ferdinand Lumbantobing dari bandara Polonia Medan dilanjutkan perjalanan darat kurang lebih 1 jam. Selama perjalanan driver bercerita tentang kondisi project Martabe beberapa minggu belakangan ini, termasuk pagi itu ternyata masyarakat melakukan demonstrasi menentang rencana PT. Agincourt Resources membuang limbah ke sungai batangtoru.

Sampai dipintu gerbang masuk utama PT. AR, pendemo sudah tidak ada lagi hanya security saja yang berjaga-jaga. Saya bisa masuk setelah pintu gerbang dibuka oleh security. Setelah mampir dulu di kantor Comunity Relation kemudian saya diantar ke kantor HRD yang terletak di gedung SOPO NAULI. Disana saya ketemu dengan salah seorang staff HRD bernama Yanti. Saya harus menyerahkan beberapa dokumen administrasi yang dipersyaratkan kemudian mengisi beberapa lembar formulir untuk data base karyawan serta formulir pengalihan jamsostek. Setelah semuanya beres saya diajak untuk makan siang di Mess Hall Pelangi karena waktu itu memang sudah waktunya jam makan siang. Saya naik shuttle bus untuk menuju Mess hall pelangi.

Mess hall nya tergolong cukup besar, sebelum masuk saya melihat tempat cuci tangan yang kayaknya memang sudah dibudayakan di perusahaan ini. Setelah masuk, saya harus mengisi absen makan yang telah disediakan oleh pihak catering provider yaitu PBU (Prasmanindo Boga Utama). Saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu ketika saya masih kerja di salah satu perusahaan tambang terbesar di dunia dari Autralia yang lokasinya berada di Kalimantan Tengah. Disana yang menyediakan catering dan maintenance Camp adalah PBU juga. Seperti nostalgia di masa yang lalu mengenang PBU. Bedanya kalau di Martabe project makanan diambilkan oleh petugas dari PBU sedangkan di Maruwai Coal project makanan kita ambil sendiri. Selain itu juga di Martabe project lebih bervariasi dengan adanya salad dan beberapa roti sedangkan di Maruwai tidak ada. Yang sama dari keduanya adalah minuman sirup yang disediakan kurang manis ha..ha.. (just kidding).

Selesai makan siang, saya dan beberapa karyawan masih menunggu kendaraan yang akan membawa kami kembali ke SOPO NAULI, lumayan lama juga menunggunya karena ternyata memang tidak ada kendaraan khusus yang dipakai untuk antar jemput karyawan dari tempatnya bekerja ke tempat makan tersebut. Setelah telepon sana dan telepon sini akhirnya ada karyawan yang berbaik hati untuk mengantarkan kami kembali ke SOPO NAULI. Sampai disana setelah mengecek kembali formulir administrasi yang harus saya lengkapi sudah lengkap maka saya dipertemukan dengan HR Superintendent yaitu Bpk. Srijanto untuk tandatangan agreement. Maka syah lah saya menjadi karyawan PT. Agincourt Resources Martabe Gold Project.  … (to be continued)

renungan yang dahsyat

Oleh : Botefilia
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
“Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya”, lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papanya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.
yours,
Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
**********
Setahun kemudian…
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
” Mario, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku?”
Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
Istrimu,
Rima”

Di surat yang lain,
“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”

Disurat yang kesekian,
“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini…
“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
“Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik.

Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”. Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Juniorku…

Lama sudah gw kagak pernah mengupdate blog ini…
Gw mulai dari kelahiran si junior deh…

Junior gw lahir di Medan pada tanggal 26 April 2010, 2 tahun setelah kakaknya lahir di tahun 2008. Alhamdulillah untuk anak gw yang kedua ini gw diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menemani istri tercinta pada proses persalinannya. Saat itu gw masih kerja di bawah bendera Macdow untuk project Tokatindung di Minahasa Utara, saat field break sengaja gw ambil annual leave juga sehingga waktu gw di rumah agak panjang. Tanggal 25 April 2010 pagi hari gw terbang dari bandara Samratulangi Manado ke Jakarta. Dari Jakarta gw langsung ke Cilegon untuk menghadiri acara aqiqah ponakan gw, sore harinya gw terbang lagi dari bandara Soekarno/Hatta Jakarta ke Medan, alhamdulillah sampai dengan selamat pukul 09.00.

Gw masih dijemput oleh istri dan anak pertama gw. Dalam perjalanan anak pertama gw senang banget dan banyak cerita, hilang sudah rasa capek dan lelah setelah seharian perjalanan. Tak disangka dan tak dinyana dini hari sekitar jam 1 istri gw merasakan kontraksi pada perutnya dan akhirnya saya bawa ke Klinik Delima. Melalui persalinan yang normal akhirnya pagi hari junior gw lahir dengan berat 3,7 kg dan panjang 51 cm. Senang banget hati ini akhirnya semua berjalan lancar anak dan istri gw semuanya dalam keadaan sehat. Anak laki-laki kami beri nama “ARDHANI ASSHADIQ MAULANA” dengan nama panggilan Ardhan.

Bayi mungil itu menarik perhatian gw walaupun masih dibaringkan di tempat khusus untuk proses adaptasi ke dunia luar. Siang hari anak gw yang pertama Fira tapi dia nyebut sendiri K’Iya datang ke tempat ibunya, dan bertanya perut ibu kok udah kecil? Dedek k’iya mana bu? Mungkin karena dia pertama lihat dedeknya di rumah sakit jadinya kalau ditanya dedek k’iya dapat dari rumah sakit.. Lucu sekali anakku satu itu..

Tidak terasa sekarang juniorku sudah besar, tumbuh dengan gagah dan sehat serta ganteng alias “handsome”

Ardhan usia 5 bulan

Understanding duty of care…

Many people do not realize that refusing or failing to observe company safety rules and safety procedures or instructions from their supervisor is, in fact, breaking the law.

People don’t appreciate that, as an employee, they have certain legal obligations with regard to their own safety and the safety of other people in their workplace.

A failure to recognize and meet these legal obligations can result in:

  • injury or harm to yourself;
  • injury or harm to other people; and
  • you being prosecuted.

Occupational safety legislation operates in the same fashion as other aspects of the law. Ignorance of the law is no defense for committing an offense.

For this reason it is important that you recognize and understand what your responsibilities are under the Duty of Care.

Today we will discuss:

  • the employee’s duties;
  • the employer’s duties; and
  • the consequences of not meeting your responsibilities.

WHAT IS THE DUTY OF CARE?

Duty of Care refers to the legal duties that employees and employers have to one another to provide and maintain a safe place of work for everyone.

One way of understanding how the duties of employer and employee fit together is to imagine the Duty of Care to be like a coin.

A coin can only have value when it has two sides.  If you take one side away from the coin, you will no longer have a valuable commodity, just a lump of metal.

The same is true with the Duty of Care.  Achieving a safe place of work requires both the employer and the employee to meet their respective duties.

For example, an employer is required, under the Duty of Care, to provide employees with adequate Personal Protective Equipment.  Employees are required, under the Duty of Care, to correctly use and maintain the provided Personal Protective Equipment.

If both parties meet their duty to one another then the likelihood of accidents are reduced and the workplace is made safer.  However, if either party does not meet its duty to the other, this cannot be achieved.

As we look at the duties of the employer and the employees in more detail, you will begin to see how the example of the coin makes sense.

EMPLOYEE’S DUTY OF CARE

As an employee you have a general duty to:

  • ensure your own safety and health at work; and
  • avoid adversely affecting the safety and health of any other person through any act or omission.

The term “act” means doing something that puts people at risk.

The term “omission” means by not doing something, you would put people at risk.

However, as an employee, you have some other more specific duties.

You must follow instructions given by the employer for your safety or the safety of other people.  This means:

  • obeying company safety rules;
  • following safety procedures; and
  • following work instructions given by your Supervisor.

You must correctly use personal protective clothing and equipment that has been provided by the employer. This means:

  • wearing the correct type of Personal Protective Equipment for the work you are doing; and
  • wearing the equipment correctly.

You must not misuse or deliberately damage any equipment provided in the interest of safety and health. This means you must not:

  • interfere or tamper with fire fighting equipment;
  • interfere or tamper with first aid equipment and facilities;
  • obstruct or deface safety signs; or
  • remove machinery safety guards without permission.

You must report hazards that you are unable correct yourself.  This means that you should remove or correct any hazards that you identify in the workplace, providing:

  • you know how to safely do so; and
  • your own safety is not unnecessarily endangered.

You must report any injury or harm to health. This means that you must:

  • report all injuries no matter how minor; and
  • report the symptoms of any disease or illness that could be associated with work.

You must co-operate with your employer to allow them to carry out their Duty of Care. This means working actively with the employer to improve workplace safety and health.

EMPLOYER’S DUTY OF CARE

The employer has a general duty to provide a workplace where employees are not unnecessarily exposed to hazards.

Employers must provide and maintain safe workplaces, plant and systems of work.  This means employers must ensure:

  • the layout of the workplace is safe;
  • the storage and handling of all materials is safe;
  • the location and movement of people and mobile equipment can be carried out safely.

The employer must also provide employees with adequate information, instructions, training and supervision so they can perform their work safely. This means the employer must:

  • alert employees to hazards by providing warning signs, posters, booklets and other written materials;
  • provide each employee with the relevant task and safety training required to do their job safely;
  • instruct employees on how work and tasks are to be performed safely; and
  • supervise employees to ensure safety and health rules, procedures and instructions are being followed.

The employer must consult and co-operate with elected safety and health representatives with regard to safety and health matters in the workplace. This is aimed at getting employees and employers working together with the common goal of improving safety and health standards in the workplace.

The employer must provide employees with adequate Personal Protective Equipment where certain hazards cannot be totally avoided. The means the employer must:

  • provide the correct type of Personal Protective Equipment for the type of hazard; and
  • train the employees in how to select, wear, and use the Personal Protective Equipment.

The employer must ensure the safe use of plant and substances in the workplace. This means the employer must ensure employees are not exposed to hazards from anything to do with:

  • the transportation, storage, handling, use, cleaning, maintenance or disposal of plant; and
  • the transportation, storage, handling, use, cleaning, maintenance or disposal of substances.

The term “plant” means all machinery, equipment, vehicles, appliances and tools used to perform work.

The term “substances” means any natural or artificial solid, gas, liquid or vapour in the workplace.

The employer must report all accidents involving fatal or major injuries to the relevant State Government Safety Inspector.