SPENDOEL…(1)


Kota Luwuk merupakan ibukota dari Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Kota ini merupakan kota kecil tetapi gaya hidupnya tidak kalah dengan kota-kota besar. Jadi biar kota kecil tapi tidak mau ketinggalan mode. Di kota ini terdapat salah satu Sekolah Menengah Pertama yang bisa dibilang favorit karena jumlah peminat yang sangat banyak untuk bisa masuk di sekolah ini. Sekolah ini namanya adalah SMP Negeri 2 Luwuk atau kerennya disingkat SPENDOEL.

Di era tahun 1990an SPENDOEL berjaya meraih beberapa prestasi yang mengharumkan namanya. Semunya menurut saya tidak lepas dari didikan dan gemblengan para Guru saat itu ditambah dengan Kepala Sekolah yang sangat ditakuti oleh murid-murid SPENDOEL. Disini saya bercerita dimana masa saya dan kawan-kawan menimba ilmu yaitu tahun 1991 – 1994. Semoga tulisan ini dapat membangkitkan nostalgia kawan-kawan saya semasa SMP.

Tahun 1991 saya dan beberapa kawan-kawan (Raymond, Bayu, Ronny, Vera, Mona, Didiek, Irsan, Mesak, dll) lulus dari SDN Pembina Luwuk dan kami melanjutkan ke SPENDOEL, karena merupakan salah SMP favorit dikala itu. Di sekolah ini, bergabunglah para juara-juara SD dari berbagai SD se Kabupaten Banggai, siapa yang tidak bangga bisa masuk di sekolah ini? Saya yakin yang sekolah disini semuanya merasa bangga. Di sekolah ini saya diterima di kelas 1A bersama kawan-kawan lainnya (Raymond, Vera, Irsan, Mesak, Bayu, Ronny, Ningsih, Rahmayanti, Rahmad, Yayuk, Rati, Arthur, Asep, dll) dan kawan-kawan lainnya (Tresno dan Evi). Dua orang yang saya sebutkan terakhir merupakan partner saya ketika mewakili Kabupaten Banggai dalam LCT P-4, tapi sayang kebersamaan kami tidak lama karena Ratna Evianty setelah catur wulan ke 2 harus pindah ke Tangerang mengikuti tugas orang tuanya. Namun sebelum kami berpisah ada kenangan prestasi yang kami tinggalkan untuk kelas 1A.

Di kelas 1A dibawah asuhan wali kelas Ibu Sartin Agama, kami dididik dan diajar seuai dengan kurikulum yang ada, persaingan untuk menjadi yang terbaik nampak jelas di kelas ini. Oh iya kenangan prestasi dari kami ber 3 (saya, Tresno, Evi) adalah memenangi LCT P-4 Tingkat SLTP dalam rangka Pameran Pembangunan Daerha Kabupaten Banggai, padahal waktu itu kami peserta tambahan karena peserta utama adalah senior kelas 3. Dari babak pertama sampai akhirnya masuk final, itulah perjalanan kami sampai akhirnya di final kami mengalahkan jawara SMP negeri 1 Luwuk kalau gak salah ingat anggotanya (Radia, Jemmy, satunya lagi saya gak ingat), pendamping kami waktu itu Ibu Sartin senang sekali, karena walaupun kami baru kelas 1 tapi bisa menjadi yang terbaik di lomba tersebut. Kenang-kenangan sebuah jam dinding dengan ukiran nama kami bertiga (Maulana, Tresno, Evi) dipasang di kelas kami yaitu kelas 1A. Bangga rasanya bisa mengharumkan nama sekolah waktu itu.

Ibu Sartin selain wali kelas kami juga sebagai pengampu mata pelajaran Sejarah, senjata andalan dari guru kami ini adalah cubitan maut tetapi sebelum cubitan dilayangkan biasanya guru kami ini akan memberikan pertanyaan berkaitan dengan materi yang dijelaskan, kalau gak bisa jawab barulah keluar senjata andalannya. Lumayan sakit dan pedis rasanya, karena sayapun pernah merasakannya dan saya yakin kawan-kawan lainnya juga pernah merasakan. Selain itu juga kami sekelas pun pernah mendapat hantaman mistar di pantat karena kami termasuk murid yang nakal dan suka ribut kalau gak ada guru. Murid-murid juga cukup takut dengan wali kelas kami ini, tapi dibalik itu semua, kecantikan wajahnya menghapus rasa sakit yang ada dan ini diakui oleh hampir semua murid-muridnya terutama yang cowok. Ibu Sartin juga kalau tidak salah merangkap sebagai guru BP (bimbingan penyuluhan). Ruangan Ibu Sartin tersendiri berada dekat kelas 1F bangunan yang lama.

Guru lainnya yang masih saya ingat adalah Ibu Pindorowulan atau dikenal dengan Ibu Pipin. Ibu yang satu ini sebagai pengampu mata pelajaran Biologi. Ibu ini perawakannya kecil mungil tapi senjata andalannya hampir sama dengan guru-guru perempuan lainnya yaitu cubitan maut. Kalau Ibu Pipin sudah masuk kelas, jangan coba-coba untuk ribut atau ngobrol sendiri bisa-bisa Ibu Pipin tidak jadi mengajar karena Ibu Pipin akan ngomel terus bisa sampai 1 jam mata pelajaran habis, itulah akhirnya yang dijadikan senjata murid-murid untuk ribut sehingga jam pelajaran akan berkurang 1 jam he..he.. Cubitan maut Ibu Pipin cukup ampuh karena membekas di kulit biasanya warna merah dan kadang-kadang biru. Senjata andalannya ini juga pernah saya rasakan dan bahkan ada yang tidak terlupakan adalah tamparan Ibu Pipin yang pernah membekas di pipi ini gara-gara kawan saya bernama Sofyan Limpo. Masih teringat dengan jelas gara-gara Sofyan menyemprot saya dengan air dalam botol aqua yang dilubangi atasnya sehingga botol kalau dipencet airnya akan tersemprot mengenai wajah saya. Maksud ingin membalas perbuatan kawan saya itu eh yang kena malah Ibu Pipin maka kami berdua dipanggil ke depan kelas dan mendapat hadiah berupa tamparan di pipi. Itulah pertama kali saya ditampar oleh seorang guru ternyata rasanya sakit buanget. Saya akhirnya dicap sebagai murid nakal. (to be continued..)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: