P3ng4laman Pert4ma dan T3rakhir


Hari Jum’at, 28 April 2006 kemarin, saya bersama kakak2 saya menjemput ayahanda yang lagi sakit di bandara internasional Soekarno/Hatta. Menurut Dokter ahli di Luwuk, ayahanda sakit ginjal karena berdasarkan hasil USG ditemukan adanya batu di ginjal ayahanda, sehingga diputuskan untuk dirujuk ke RSCM dengan fasilitas ASKES (ayahanda adalah PNS). Tepat jam 14.00 pesawat yang menghantar ayahanda mendarat, dan setelah bertemu dengan ayahanda dan kakak saya yang ke 3, kami pun meluncur ke RSCM dengan harapan ayahanda segera mendapatkan perawatan, karena selama dalam perjalanan ayahanda mengeluh sakit.

Jam 16.00 WIB, kami sampai di IGD RSCM dan langsung membawa ayahanda masuk ruang IGD dengan dipan dorong yang tersedia. Ternyata harapan kami agar ayahanda mendapat perawatan segera tidak terpenuhi, pertama kali kami di tanya udah daftar belum? Udah pesan ruang kamar belum? dan beberapa pertanyaan yang tidak kami sangka. Setelah kami mendaftar dengan fasilitas ASKES, kami masih mencari ruangan alhasil kami harus mondar mandir di RSCM yang masih asing bagi saya. Setelah ruangan didapati kami harus menyetor DP untuk kelas VIP C sebesar Rp 5.750.000,-. Waktu semakin bergulir, tapi belum ada  perawatan yang diterima oleh ayahanda, sampai akhirnya kami minta kembali dokter untuk melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan dilakukan di lorong2 antara ruangan. Entah settingan ruangan IGD yang salah atau bagaimana, yang jelas ruangan itu penuh sesak. Setelah ditanya macem2 oleh dokter yang satu… datang lagi dokter lainnya bertanya juga yang sama. Saya heran apakah tidak ada koordinasi diantara dokter, sehingga harus bertanya lagi.

Setelah pengambilan darah ayahanda, kami yang disuruh mondar mandir untuk mengurusnya, mulai ke lantai 2, lantai 4, dan lantai 2 ICU. waktu nganter sampel darah yang diambil perawat ke lab, kami malah ditanya ini kok darahnya sedikit sekali, la wong kami tidak tahu kok, yang ambil kan perawat jadi ya jangan tanyakan ke kami, itulah jawaban saya saat itu dengan nada agak kesal. Akhirnya hasil lab bisa kami dapatkan. kami masih disibukkan untuk bolak-balik nebus obat baik yang dapat ASKES maupun tidak. Lucunya masa setiap dikasih resep kami harus bertanya apakah ini ditanggung ASKES atau tidak? Apakah tiak ada list atau daftar apa2 yang ditanggung ASKES dan apa2 yang tidak ditanggung, biar keluarga pasien tidak bolak-balik bertanya. Inikah yang dinamakan pelayanan di Rumah Sakit Pusat Cipto Mangunkusumo, yang dibanggakan Pemerintah? Akhirnya dengan kesal, setiap menerima resep saya selalu bertanya.

Satu hal lagi yang membuat saya bertanya, setiap membayar yang ASKES diminta foto kopi ASKES, ntah berapa foto kopi yang harus kami sediakan. Apakah tidak link data antara yang satu dengan lainnya? Sehingga keluarga pasien tidak perlu foto kopi ASKES yang banyak. dari hasil foto rontgen ternyata tidak terlalu jelas kebaca, sehingga tidak bisa diambil kesimpulan dari hasil foto itu. Kemudian dilakukan USG terhadap ayahanda, setelah dilihat oleh 3 – 4 orang dokter yang katanya bagian urologi tapi tidak ditemukan adanya batu, padahal waktu di Luwuk dikatakan ada batu ginjal. saya tidak tahu kenapa bisa berbeda. Apakah beda sudut andang antara dokter penyakit dalam sama dokter urologi? sampai saat ini saya masih tanda tanya besar.

Dari jam 16.00 ayahanda masuk IGD RSCM, baru jam 24.00 ayahanda masuk ruangan Paviliun yang telah kami pesan. Sebelum masuk saya sudah mengingatkan berkali-kali ke dokter jaga untuk menelopon bagian ruangan sebelum ayahanda masuk kesana, katanya sudah di telepon tapi ternyata ketika kami mau masuk, malah ditanyain kok tidak nelepon dulu? Saya yang udah capek dan kesal dengan pelayanan yang diberikan RSCM langsung menjawab ya jangan tanyakan ke kami, tanyakan ke dokter jaga, wong sudah diingatkan berkali-kali kok. Ayahanda sempat berkata cukup ini pengalaman pertama dan terakhir masuk RSCM.

Bagaimana orang sakit mau cepat sembuh kalau pelayanan masih seperti ini? Bagaimana mau bersaing dengan RS Swasta kalau manajemennya masih seperti ini, yang membuat pusingkeluarga pasien. Seharusnya Pemerintah melek akan hal ini, demi kebaikan pelayanan pasien yang akan datang. Satu hal lagi, di RSCM tidak mengenal orang yang lagi sakit di hari libur (Sabtu -Minggu) tidak ada perawatan oleh dokter yang ahli, paling hanya dikunjungi oleh dokter jaga. jadi pesan saya, jangan sekali-kali masuk ke RSCM pada hari Sabtu atau Minggu, anda bisa merasakan sendiri akibatnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: