renungan yang dahsyat

Oleh : Botefilia
Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita.

Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja.

Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario, setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan.

Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya,
“Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya”, lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario, tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun!

Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku.

Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2.

Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya.

Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta, aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian.

Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papanya, dan memanggilku, “Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha?”

Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu,

Dear Meisha,
Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.

Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.

Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.
Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.
yours,
Mario

Mataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku.

Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain.
Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya.

Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya.

Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku. Betapa malangnya nasibku.

Mario terus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya.
**********
Setahun kemudian…
Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga.
” Mario, suamiku….
Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..

Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario.
Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, “kenapa, Rima? Kenapa kamu mesti cemburu? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku?”
Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.
Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.
Istrimu,
Rima”

Di surat yang lain,
“………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……”

Disurat yang kesekian,
“…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.
Aku telah berubah, Mario. Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….

Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya……..”
Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya.
Disurat terakhir, pagi ini…
“…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.

Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.

Tahukah engkau suamiku,
Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………”

Jelita menatap Meisha, dan bercerita,
“Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik.

Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……”. Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa.

Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya.

Dear Meisha,
Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya?

Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….

Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario. Kadang kita baru menyadari mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita.

Juniorku…

Lama sudah gw kagak pernah mengupdate blog ini…
Gw mulai dari kelahiran si junior deh…

Junior gw lahir di Medan pada tanggal 26 April 2010, 2 tahun setelah kakaknya lahir di tahun 2008. Alhamdulillah untuk anak gw yang kedua ini gw diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk menemani istri tercinta pada proses persalinannya. Saat itu gw masih kerja di bawah bendera Macdow untuk project Tokatindung di Minahasa Utara, saat field break sengaja gw ambil annual leave juga sehingga waktu gw di rumah agak panjang. Tanggal 25 April 2010 pagi hari gw terbang dari bandara Samratulangi Manado ke Jakarta. Dari Jakarta gw langsung ke Cilegon untuk menghadiri acara aqiqah ponakan gw, sore harinya gw terbang lagi dari bandara Soekarno/Hatta Jakarta ke Medan, alhamdulillah sampai dengan selamat pukul 09.00.

Gw masih dijemput oleh istri dan anak pertama gw. Dalam perjalanan anak pertama gw senang banget dan banyak cerita, hilang sudah rasa capek dan lelah setelah seharian perjalanan. Tak disangka dan tak dinyana dini hari sekitar jam 1 istri gw merasakan kontraksi pada perutnya dan akhirnya saya bawa ke Klinik Delima. Melalui persalinan yang normal akhirnya pagi hari junior gw lahir dengan berat 3,7 kg dan panjang 51 cm. Senang banget hati ini akhirnya semua berjalan lancar anak dan istri gw semuanya dalam keadaan sehat. Anak laki-laki kami beri nama “ARDHANI ASSHADIQ MAULANA” dengan nama panggilan Ardhan.

Bayi mungil itu menarik perhatian gw walaupun masih dibaringkan di tempat khusus untuk proses adaptasi ke dunia luar. Siang hari anak gw yang pertama Fira tapi dia nyebut sendiri K’Iya datang ke tempat ibunya, dan bertanya perut ibu kok udah kecil? Dedek k’iya mana bu? Mungkin karena dia pertama lihat dedeknya di rumah sakit jadinya kalau ditanya dedek k’iya dapat dari rumah sakit.. Lucu sekali anakku satu itu..

Tidak terasa sekarang juniorku sudah besar, tumbuh dengan gagah dan sehat serta ganteng alias “handsome”

Ardhan usia 5 bulan

Understanding duty of care…

Many people do not realize that refusing or failing to observe company safety rules and safety procedures or instructions from their supervisor is, in fact, breaking the law.

People don’t appreciate that, as an employee, they have certain legal obligations with regard to their own safety and the safety of other people in their workplace.

A failure to recognize and meet these legal obligations can result in:

  • injury or harm to yourself;
  • injury or harm to other people; and
  • you being prosecuted.

Occupational safety legislation operates in the same fashion as other aspects of the law. Ignorance of the law is no defense for committing an offense.

For this reason it is important that you recognize and understand what your responsibilities are under the Duty of Care.

Today we will discuss:

  • the employee’s duties;
  • the employer’s duties; and
  • the consequences of not meeting your responsibilities.

WHAT IS THE DUTY OF CARE?

Duty of Care refers to the legal duties that employees and employers have to one another to provide and maintain a safe place of work for everyone.

One way of understanding how the duties of employer and employee fit together is to imagine the Duty of Care to be like a coin.

A coin can only have value when it has two sides.  If you take one side away from the coin, you will no longer have a valuable commodity, just a lump of metal.

The same is true with the Duty of Care.  Achieving a safe place of work requires both the employer and the employee to meet their respective duties.

For example, an employer is required, under the Duty of Care, to provide employees with adequate Personal Protective Equipment.  Employees are required, under the Duty of Care, to correctly use and maintain the provided Personal Protective Equipment.

If both parties meet their duty to one another then the likelihood of accidents are reduced and the workplace is made safer.  However, if either party does not meet its duty to the other, this cannot be achieved.

As we look at the duties of the employer and the employees in more detail, you will begin to see how the example of the coin makes sense.

EMPLOYEE’S DUTY OF CARE

As an employee you have a general duty to:

  • ensure your own safety and health at work; and
  • avoid adversely affecting the safety and health of any other person through any act or omission.

The term “act” means doing something that puts people at risk.

The term “omission” means by not doing something, you would put people at risk.

However, as an employee, you have some other more specific duties.

You must follow instructions given by the employer for your safety or the safety of other people.  This means:

  • obeying company safety rules;
  • following safety procedures; and
  • following work instructions given by your Supervisor.

You must correctly use personal protective clothing and equipment that has been provided by the employer. This means:

  • wearing the correct type of Personal Protective Equipment for the work you are doing; and
  • wearing the equipment correctly.

You must not misuse or deliberately damage any equipment provided in the interest of safety and health. This means you must not:

  • interfere or tamper with fire fighting equipment;
  • interfere or tamper with first aid equipment and facilities;
  • obstruct or deface safety signs; or
  • remove machinery safety guards without permission.

You must report hazards that you are unable correct yourself.  This means that you should remove or correct any hazards that you identify in the workplace, providing:

  • you know how to safely do so; and
  • your own safety is not unnecessarily endangered.

You must report any injury or harm to health. This means that you must:

  • report all injuries no matter how minor; and
  • report the symptoms of any disease or illness that could be associated with work.

You must co-operate with your employer to allow them to carry out their Duty of Care. This means working actively with the employer to improve workplace safety and health.

EMPLOYER’S DUTY OF CARE

The employer has a general duty to provide a workplace where employees are not unnecessarily exposed to hazards.

Employers must provide and maintain safe workplaces, plant and systems of work.  This means employers must ensure:

  • the layout of the workplace is safe;
  • the storage and handling of all materials is safe;
  • the location and movement of people and mobile equipment can be carried out safely.

The employer must also provide employees with adequate information, instructions, training and supervision so they can perform their work safely. This means the employer must:

  • alert employees to hazards by providing warning signs, posters, booklets and other written materials;
  • provide each employee with the relevant task and safety training required to do their job safely;
  • instruct employees on how work and tasks are to be performed safely; and
  • supervise employees to ensure safety and health rules, procedures and instructions are being followed.

The employer must consult and co-operate with elected safety and health representatives with regard to safety and health matters in the workplace. This is aimed at getting employees and employers working together with the common goal of improving safety and health standards in the workplace.

The employer must provide employees with adequate Personal Protective Equipment where certain hazards cannot be totally avoided. The means the employer must:

  • provide the correct type of Personal Protective Equipment for the type of hazard; and
  • train the employees in how to select, wear, and use the Personal Protective Equipment.

The employer must ensure the safe use of plant and substances in the workplace. This means the employer must ensure employees are not exposed to hazards from anything to do with:

  • the transportation, storage, handling, use, cleaning, maintenance or disposal of plant; and
  • the transportation, storage, handling, use, cleaning, maintenance or disposal of substances.

The term “plant” means all machinery, equipment, vehicles, appliances and tools used to perform work.

The term “substances” means any natural or artificial solid, gas, liquid or vapour in the workplace.

The employer must report all accidents involving fatal or major injuries to the relevant State Government Safety Inspector.

Kisah di bulan Februari…

Bulan Februari sebentar lagi akan berakhir. Di   sini aku masih menjalani aktivitas sebagai “kuli” seperti biasa tiap pagi bangun pukul 05.00am kecuali holiday habis subuhan bisa bangun jam 10.00am. Seperti hari ini di hari terakhir bulan Februari, panas terik yang menyinari bumi tidak menyurutkan semangat kerja kami disini. Tiada hari tanpa kerja kecuali kalau jatahnya libur.

Pertengahan bulan Februari tepatnya tanggal 15 merupakan tanggal kelahiranku di dunia ini. Tidak terasa sudah 31 tahun aku hidup di dunia ini, masih banyak yang belum aku lakukan sebagai hamba Allah, masih banyak aturan-aturan yang aku langgar dan masih banyak perintah-perintah yang tidak aku kerjakan tetapi yang pasti aku sekuat tenaga dan semampuku berbuat yang terbaik buat keluarga, agama, bangsa dan negara.

Di malam tanggal 15, pukul 12.05 am kuterjaga dari tidurku akibat dari suara dering handphone yang nyaring, setelah ku lihat ternyata istriku tersayang di seberang sana meneleponku. Segera kuangkat terdengar suara lembut nan mesra nun jauh disana. Terima kasih sayangku, engkau orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Semua harapan dan doa-doa tercurah dari mulut manis dan bibir sexi istriku, semoga apa yang menjadi harapan dan doa kita segera dapat terwujud sayang.

Tahun lalu di tanggal yang sama, disampingku masih ada keluarga kecilku istriku tersayang dan my little angel Fira  yang menemani hidupku di kota Cilegon. Waktu itu istriku membuat masakan yang sangat enak guna merayakan secara kecil-kecilan hari kelahiranku. Betapa penuh perhatiannya istriku tidak pernah kenal lelah tuk memberikan peyajian yang terbaik buatku. Ucapan selamat ulang tahun dan kecupan di bibir memberikan semangat baru buatku dalam mengarungi kehidupan bahtera rumah tangga. Buah hati kami yang lucu sudah ada ditengah-tengah kami sebagai penghibur bagi kami disaat penat merasuki kalbu.

Di tahun ini kenangan setahun yang lalu hanya bisa terbayang dan terngiang karena sekarang aku sendiri di perantauan berpisah dengan keluarga kecilku demi menghidupi keluarga kecilku aku rela terpisah antara jarak, tempat dan waktu. Itulah kisahku di bulan Februari. Semoga kisah di tahun depan akan berbeda dengan tahun ini.

How to present a Safety talk

What is a Toolbox Talk

A Toolbox Talk is a communication session between the Supervisor and his crew.

Toolbox Talks are an effective means of increasing the safety awareness of employees.  They can be used to:

  • provide safety information; and
  • remind employees of company rules and procedures.

To be effective a Toolbox Talk must be:

  • brief,
  • informative,
  • well presented, and
  • interesting.

It must also have:

  • a specific topic, subject or theme; and
  • a reason for discussing the topic.

The major reason why Supervisors fail to deliver effective Toolbox Talks is because they don’t:

  • select relevant topics;
  • plan what information to give in the toolbox talk; and
  • think about how to present the information.

Selecting a Topic

Preparation is the key to successful Toolbox Talks and the first step is to select a relevant topic.

Unfortunately Supervisors can fall into the trap of selecting topics based upon:

  • what personally interests them;
  • what appears to be easy to present; or
  • what pops into their head five minutes prior to meeting with the crew.

Toolbox Talks must be selected on the basis of what people need to know to do their job safely.

Select your topic with a specific aim in mind.  A Toolbox Talk is not just a matter of giving information – your crew needs to use this information so they can do their work safely.  You must decide what information your crew needs.

When deciding what information your crew needs ask yourself the following questions:

  • What types of injuries have occurred lately?
  • What types of near misses have happened in the last three months?
  • What unsafe conditions have been observed in the past month’s housekeeping inspections?
  • Have I noticed any particular unsafe behaviors or actions occurring on the crew?
  • Have I had to speak to anyone on the crew about their attitude to safety?

Asking yourself these questions will help you to:

  • select a relevant topic; and
  • identify what sort of information the crew needs.

For example, if you have recently noticed the compressed gas cylinder storage areas littered with paper and other combustibles, you might consider discussing compressed gas cylinder storage as your next Toolbox Talk.

Once you have selected the topic you need to plan:

  • what you are going to say in your talk; and
  • how you are going to say it.

Planning What to Say

Even if your organization has ready made Toolbox Talk packages it is still important to understand how to prepare a Toolbox Talk.

This is because, no matter how well written your Company’s Toolbox Talks are, you will still be required to do some preparation prior to delivering them.  Each crew is different, and it is important that you deliver Toolbox Talks which are relevant to your crew.  You may still have to slightly modify your Company Toolbox Talks to suit your delivery style and the needs of your crew.

There could also be situations when your Company does not have a ready made Toolbox Talk which covers the issue you want to address with your crew.

The first stage of preparing a toolbox talk is deciding what information needs to be included.  There are no “hard and fast” rules for preparing Toolbox Talks but here are some useful guidelines which you should follow.

  • Always make notes when planning your talk.  Very few people can plan an effective talk without jotting down their ideas onto paper.  This can be a detailed plan or a series of bullet points and key words.
  • Only include information which is essential to the message you want to give to the crew.
  • Keep the information as simple and possible.  It is easy to make the mistake of trying to cover too much ground in one toolbox talk.
  • Keep the length of the talk to no more than 20 minutes.  If the information is going to take more than 20 minutes you are either going into too much detail; or covering too wide an area.
  • Use a minimum of words and sentences to keep your talk short, sharp and “punchy”.

At this stage only concentrate on listing what information you want to cover in your talk.  The next stage is to sketch out your plan on how to say it.

Planning How to Say It

After you have decided what you are going to say you must think, plan and write down how you are going to say it.  Unfortunately, this is where many speakers fail to plan.

The information in your talk may not have the impact if it is not delivered in the correct sequence.

There are also some basic guidelines that you can use to help you present your talk.  This means taking your initial notes and “fleshing them out” into a simple plan consisting of an introduction, a body and a summary.

The Introduction

How you introduce your Toolbox Talk is important.  A good introduction will quickly gain the crews attention and “set the scene” for the remainder of the talk.

In your introduction you should state:

  • the topic you will be discussing;
  • why the topic is being discussed; and
  • what the topic will include.

Make a note of how you will introduce the Toolbox Talk in your notes.  Don’t leave this until the moment you are about to start the talk.  If you appear unprepared for your talk, the crew will be unprepared to listen for very long.

You can lose an audience within the first minute of your talk with a poor introduction.  Once the audience is “lost” it is hard to recover their attention.

The body of the talk is where you present the bulk of the information you planned to cover.

This is usually the easiest part of delivering the talk but it also has the potential to become quite boring for the crew if it is not carried out properly.

Here are some simple techniques you can use to bring your Toolbox Talk to life.

  • Cover one point or idea at a time.  Nothing is more distracting for a listener than someone who jumps back and forth from one point another.
  • Use examples to make your presentation more interesting and to illustrate a point.  However, it is important to pick examples which mean something to the crew. Use past events, situations and incidents which have occurred on the crew as examples so they can identify with the points you are making in your talk.
  • Use questions throughout your presentation.  Questions are an effective method of getting your employees involved in the toolbox talk.  By using questions you turn the presentation into a discussion session rather than a lecture.
  • Use visual aids to make your talks more interesting.  You will get increased attention and better understanding if you show and tell people what you are discussing.  People can remember more information if they see and hear it, rather than if they just hear it.  Visual aids can include equipment, photographs, charts and diagrams.

The use of real-life examples, visual aids, and questions will enhance the quality of your talks.

Write down in your notes where you will use a question, an example or a visual aid.

The Summary

It is just as important to have an effective summary at the end of your talk as it is to have a good introduction at the start.  The idea of the summary is to leave the crew with a lasting impression of the talk.

It should include:

  • a re-cap on the major points covered in the talk; and
  • a clear statement regarding what you want the crew to do in future.

Presenting the Toolbox Talk

If you have prepared for your toolbox talk the presentation should not be difficult.  Whether you are using a toolbox talk you have developed or one of the Company’s standard Toolbox Talks you should apply the following techniques.

  • Read your notes before you begin the Toolbox Talk but don’t attempt to memorise them.
  • Keep the group size for Toolbox Talks to no more than 12 people.  The larger the group more difficult it is to create involvement.
  • Use your notes or the script as a guide but don’t read directly from it.
  • Present the information in your own words.   If you read directly from the script it will come across to your crew as dull and artificial.
  • Involve the crew in the talk by asking open questions which require a descriptive answer instead of a simple yes or no answer.
  • Give the crew 10 -20 seconds to answer the question.  It will take the crew some time to get used to being asked for information.
  • Always acknowledge correct answers to your questions.
  • Put questions to the “group” rather than “singling out individuals” for questioning.  A person may feel embarrassed if they don’t know the answer to your question.
  • Allow the crew to ask you questions and if you are unsure of the correct answer don’t bluff.  Be open and state that you don’t know but get the correct answer back to the crew as soon as possible after the toolbox talk.

As you conduct more Toolbox Talks in this fashion you should begin to see that you are doing less “lecturing” and more talking with your crew.  Your crew will begin to learn more from the Toolbox Talks because they are a participating, and learning from you and each other.

Conclusion

You do not have to be a brilliant speaker to present interesting and informative Toolbox Talks.

The key to successful Toolbox Talks is planning and preparation.

Planning and preparation means:

  • selecting the appropriate topic;
  • identifying what you want to say; and
  • planning how you are going to say it.

Have a written plan and refer to it during your talk.

Always have a brief introduction to set the scene and gain the crews attention.

Make use of examples, visual aids and questions to involve your crew members and bring the topic to life.

Always summarize the talk at the end and tell the crew what you expect from them in the future.

When you elect to use a Company standard Toolbox Talk you must still plan and prepare your presentation.

Hari-hari berlalu (5)

Setelah 2 minggu lamanya kami diberikan cuti untuk bertemu dengan keluarga, akhirnya pada tanggal 6 Januari 2010 kami kembali lagi di tokatindung untuk melanjutkan pekerjaan yang belum selesai yaitu pekerjaan refurbishment mechanical equipment. Sampai hari ini sudah banyak jenis pekerjaan yang kami selesaikan, tinggal beberapa yang kecil-kecil dan pekerjaan tambahan permintaan dari client.

Hampir 1 bulan lamanya setelah kembali dari cuti, tapi perasaan kok masih lama banget berada di lokasi ini. Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Perasaan jenuh kadang timbul karena rutinitas yang tidak berubah dan jauh dari keluarga. Mau tidak mau tetap harus bertahan disini sampai ada pilihan lain yang terbaik.

Hari-hari berlalu (4)

Hampir 3 bulan kami sudah bekerja di Toka Tindung Gold Project. Semakin hari load pekerjaan semakin banyak. Target pekerjaan pun semakin dikejar. Namun demikian keselamatan kerja tetap yang paling diutamakan. Percuma produktivitas kerja tinggi tapi banyak terjadi kecelakaan atau incident di tempat kerja. Sesuai dengan semboyan Macdow untuk safety : Home without Harm, Everyone everyday, artinya pulang ke rumah tanpa incident setiap orang setiap hari.

Beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan structural seperti repair conveyor bridge, hoper, chute, dan equipment lainnya memerlukan pekerjaan panas atau hot work. Sesuai dengan aturan yang ada, maka pekerjaan panas dipersyaratkan untuk adanya permit yaitu hot work permit yang diterbitkan oleh HSE Department. Tujuan adanya permit ini adalah agar semua parameter pada hot work bisa dinilai terutama dari segi safetynya.

Gambar diatas 2 orang pekerja (Supervisor dan Foreman) sedang melakukan pengukuran terhadap conveyor bridge untuk direpair dan di join. Pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan structural seperti pemotongan, grinding, welding, drilling. Semua pekerjaan adalah termasuk hot work sehingga semua pekerja harus sudah mengidentifikasi potensi-potensi bahaya yang berhubungan dengan hot work sehingga mereka tahu bagaimana untuk mengendalikan atau mengontrol potensi bahaya yang ada.

Ini merupakan salah satu contoh pekerja melakukan welding, karena posisi yang harus direpair pada bagian bawah sehingga pekerja melakukannya dengan cara berbaring. Dalam pekerjaan ini alat pelindung diri tetap digunakan sebagaimana yang telah ada di dalam JSEA.

Pekerjaan lainnya yang berhubungan dengan mechanical adalah pembubutan dan pembuatan lubang plat untuk equipment. Semua pekerjaan ini dilakukan oleh tenaga kerja yang mempunyai skill dibidangnya karena berhubungan dengan peralatan mesin yang dapat membuat orang cidera kalau tidak berhati-hati dan tidak tahu cara mengoperasikannya. Pekerjanya biasa disebut tool maker atau machinist.

Dengan adanya alat ini semakin memudahkan pekerjaan divisi lainnya, karena material yang mau dilubangin atau dibubut bisa dilakukan disini tanpa harus membawa keluar dari project ini.

“SPENDOEL” … (3)

Murid-murid yang pernah menimba ilmu di SPENDOEL pada dekade 85-an sampai 95-an pasti akan mengenal sosok satu ini yaitu Bpk. Muzamil Dulu. Beliau adalah Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Luwuk yang sangat terkenal dan ditakuti serta disegani oleh murid-muridnya. Jangan pernah main-main dengan Bapak satu ini yang menjuluki dirinya dengan gelar Profesor Doktor Karburator Otak Kotor. Ciri khas dari beliau adalah jimat yang tumbuh di pipi bagian kanan kalau gak salah loh… kalau salah berarti sebelahnya lagi alias sebelah kiri. Kendaraan andalannya adalah vespa standard warna merah menyala. Kalau kami mendengar suara vespanya sudah bisa dipastikan semuanya akan lari menjauh.

Kedisiplinan yang diterapkan oleh beliau, benar-benar keras tetapi semuanya ada hasil dan manfaatnya yang kami rasakan juga sampai saat ini. Ada beberapa kebiasaan yang dijalankan oleh beliau saat menjadi “penguasa” di SPENDOEL, yang pertama adalah semua murid-muridnya diwajibkan untuk membawa air mineral dari rumah masing-masing. Hal ini dilakukan mungkin untuk meyakinkan bahwa murid-muridnya mengkonsumsi air yang bersih sehingga tidak akan sakit perut. Untuk mensukseskan program ini maka perangkat OSIS diberdayakan. Sebelum jam 07.00 pagi, beberapa pengurus OSIS akan berjaga di pintu gerbang masuk ke sekolah tercinta dengan memeriksa dan mengecek setiap murid yang akan masuk harus memperlihatkan air mineral yang dibawanya. Kalau sudah ok, maka boleh melewati pintu gerbang sekolah menuju halaman sekolah.

Setiap pagi, inilah pekerjaan rutin para pengurus OSIS. Ternyata murid-murid ada juga yang malas membawa air mineral dari rumah, entah kenapa mereka malas, padahal untuk mereka sendiri. Yang tidak membawa akan disuruh pulang. Namanya murid bandel ada juga yang membawa air tapi ternyata airnya bukan air yang masak di bawa dari rumah melainkan diisi air dari keran pancuran. Modus operandi ini ternyata terbaca juga oleh para pengurus OSIS, sehingga tidak mau kalah dengan murid yang bandel, akhirnya semua murid-murid yang dicurigai selain diminta untuk memperlihatkan air mineral juga diminta untuk dicicipi alias diminum sedikit he..he.. Bahkan ada cerita dari kakak kelas waktu itu di botol aquanya dia isi ikan dari kuala samping rumah, pas diperiksa dia hanya melihatkan botol aqua dari balik tasnya tapi pengurus OSIS ingin melihat semuanya, musibah bagi dirinya ketika diangkat ada ikan kecil berenang-renang di dalam botol aquanya ha..ha.. Akhirnya mau tidak mau ketahuanlah kalau air yang dibawa adalah air yang tidak baik untuk diminum. Kakak kelas ini alumni ITS dari Jurusan Matematika, sekarang mengembara di kota Manado. 

Kewajiban membawa air mineral ini, awalnya dirasakan mengada-ada oleh kami tapi ternyata memang manfaatnya besar untuk kesehatan kami. Bahkan ada salah satu kawan penulis yang bukan hanya membawa air mineral, tetapi susu coklat. Ternyata setelah diselidiki memang udah dari zaman SD kawan yang satu ini selalu bawa susu coklat buatan orang rumah pastinya. Kawan penulis ini kalau ke sekolah rambutnya diikat 2, menandakan dia cewek bukan cowok. Orangnya SMART ini terbukti dengan dia menjadi juara 1 di kelas kami yaitu 1A pada catur wulan pertama dengan nilai semuanya 9 dan totalnya 90 karena ada 10 mata pelajaran. Sayang beribu sayang kawan ini harus pindah mengikuti tugas orang tuanya. Kami merasa kehilangan dia, apalagi penulis dan Tresno, karena kami biasa disebut 3 serangkai. Siapakah dia??? Anda pasti tahu jawabannya… 

Selain kebiasaan membawa air mineral, kebiasaan lainnya adalah kelengkapan seragam berupa dasi silang berwarna biru ciri khas anak cowok SMP dan dasi kupu-kupu berwarna biru ciri khas anak cewek SMP. Ternyata setelah penulis ingat-ingat, ada juga kejadian yang behubungan dengan dasi ini. Ada beberapa kawan penulis yang suka menjadikan dasi ini mainan menyabet kawan-kawan lainnya dengan cara ke 2 ujung dari dasi ini dipegang dan salah satunya dilepas sambil dijepretkan ke kawan. Alhasil kawan-kawan lainnya jadi ikut-ikutan main sampai akhirnya ketahuan sama Pak Kadir dan diberi hukuman yaitu semuanya disabet or dijepret oleh Pak Kadir sampai akhirnya semuanya tidak mau main-main lagi dengan dasi. Salah satu kawan yang suka main dasi ini adalah alumni Universitas Brawijaya dari Fakultas Teknik Arsitektur, anak dari seorang dokter gigi yang pernah ada di kota Luwuk… Ayo tebak siapa dia???

Maaf ternyata tulisannya harus bersambung lagi karena penulis harus kerja… (to be continued)

SPENDOEL… (2)

Melanjutkan cerita postingan pertama…

Untuk mata pelajaran Matematika kami diajar oleh Pak Abdul Kadir Amir biasa dipanggil Pak Kadir. Bapak yang satu ini termasuk guru favorit di sekolah karena perawakannya yang atletis dengan kumis yang agak tebal, kalau tersenyum bisa bikin mabuk kepayang cewek-cewek yang memandangnya he..he.. Ada yang mau ngaku? Pak Kadir mempunyai senjata andalan berupa pukulan dengan mistar atau jangka kayu, kami pun pernah merasakan senjata andalannya ini apalagi pada saat Pak Kadir menjadi wali kelas kami di kelas 3A, nanti dicerita selanjutnya akan lebih detail. Beberapa murid kesayangannya karena memang pintar matematika adalah Raymond, Evi, Bayu, Rahmad, kalau saya belum termasuk karena saya tidak pintar matematika hi..hi..  

Ibu Ratna adalah guru Bahasa Indonesia yang sangat baik karena tidak pernah marah. Suaranya lemah lembut sehingga murid-murid sangat senang kalau diajar oleh Ibu Ratna. Dasar namanya murid-murid tetap saja ada yang bandel dan nakal, sehingga Ibu Ratna paling berdiam diri melihat dan mengamati murid-muridnya yang ribut, setelah murid-muridnya sadar kalau gurunya diam baru Ibu guru ini melanjutkan pelajarannya. Tidak ada senjata andalan dari Ibu Ratna dibandingkan dengan guru-guru lainnya, paling guru yang satu ini hanya berdiam diri, itulah mungkin senjata andalannya he..he..

Ada kejadian menarik saat kami masih jadi anak baru. Waktu itu upacara bendera dengan pembina upacara adalah Pak Suyanto (alm) guru matematika dengan motor andalannya yamaha robot warna biru. Pada saat pembina upacara sedang memberikan pengarahan, tiba-tiba kawan kami yang bernama Irsan Ismail atau biasa dipanggil Yau maju kedepan dengan membawa sebutir batu yang menurut saya ukurannya cukup besar. Dengan wajahnya yang polos dan sambil menunjukkan batu yang dibawanya, Yau mengatakan ke pembina upacara bahwa dia dilempar dengan batu itu dari arah belakang. Pak Yanto langsung mengatakan baik kamu kembali ke tempat dan setelah upacara yang baris dibagian belakang tetap tinggal ditempat. Ternyata selesai upacara kawan-kawan yang baris di belakang mendapat hadiah dari Pak Yanto berupa tamparan yang lumayan sakit kalau cerita teman saya yang kena yaitu Adam Akolo. Tidak ada yang menyangka kalau Yau maju kedepan mengadu ke pembina upacara. Kalau mengingat peristiwa ini pasti akan tertawa ha..ha..ha..

Begitulah kenakalan kami saat masih duduk dibangku sekolah, walaupun baru kelas 1 tapi sudah kelihatan bandelnya. Kelas 1A kami berada dibangunan yang bertingkat sebelah kiri atas kalau lihat dari arah jalan. Banyak kenangan yang tidak akan terlupakan ketika masih berada di kelas 1A ini. Wali kelas kami yang baik hati dan cantik (yang ini kata semua murid loh) memberikan bimbingan dan motivasi kepada kami semua sebagai anak didiknya. Walaupun kadang kala kami bandel dan nakal tapi dibalik itu semua kami sebenarnya adalah anak-anak pintar, jadi berimbang antara bandel dan nakal. Kalau kami tidak pintar mana mungkin kami duduk dibangku kelas 1A, karena kelas 1 terdiri dari 1A sampai 1F. Kawan saya yang saya masih ingat dari kelas 1F adalah Budiman, dan kawan yang satu ini suka sama cewek kelas 1A yaitu Nurnaningsih Ibrahim. Saya tidak tahu dimana Budiman sekarang berada, yang saya tahu adalah Nurnaningsih alias Tuty dia sekarang tetap berada di kota Luwuk.

Cerita selanjutnya mengenai Kepala Sekolah kita tercinta… (to be continued)

SPENDOEL…(1)

Kota Luwuk merupakan ibukota dari Kabupaten Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah. Kota ini merupakan kota kecil tetapi gaya hidupnya tidak kalah dengan kota-kota besar. Jadi biar kota kecil tapi tidak mau ketinggalan mode. Di kota ini terdapat salah satu Sekolah Menengah Pertama yang bisa dibilang favorit karena jumlah peminat yang sangat banyak untuk bisa masuk di sekolah ini. Sekolah ini namanya adalah SMP Negeri 2 Luwuk atau kerennya disingkat SPENDOEL.

Di era tahun 1990an SPENDOEL berjaya meraih beberapa prestasi yang mengharumkan namanya. Semunya menurut saya tidak lepas dari didikan dan gemblengan para Guru saat itu ditambah dengan Kepala Sekolah yang sangat ditakuti oleh murid-murid SPENDOEL. Disini saya bercerita dimana masa saya dan kawan-kawan menimba ilmu yaitu tahun 1991 – 1994. Semoga tulisan ini dapat membangkitkan nostalgia kawan-kawan saya semasa SMP.

Tahun 1991 saya dan beberapa kawan-kawan (Raymond, Bayu, Ronny, Vera, Mona, Didiek, Irsan, Mesak, dll) lulus dari SDN Pembina Luwuk dan kami melanjutkan ke SPENDOEL, karena merupakan salah SMP favorit dikala itu. Di sekolah ini, bergabunglah para juara-juara SD dari berbagai SD se Kabupaten Banggai, siapa yang tidak bangga bisa masuk di sekolah ini? Saya yakin yang sekolah disini semuanya merasa bangga. Di sekolah ini saya diterima di kelas 1A bersama kawan-kawan lainnya (Raymond, Vera, Irsan, Mesak, Bayu, Ronny, Ningsih, Rahmayanti, Rahmad, Yayuk, Rati, Arthur, Asep, dll) dan kawan-kawan lainnya (Tresno dan Evi). Dua orang yang saya sebutkan terakhir merupakan partner saya ketika mewakili Kabupaten Banggai dalam LCT P-4, tapi sayang kebersamaan kami tidak lama karena Ratna Evianty setelah catur wulan ke 2 harus pindah ke Tangerang mengikuti tugas orang tuanya. Namun sebelum kami berpisah ada kenangan prestasi yang kami tinggalkan untuk kelas 1A.

Di kelas 1A dibawah asuhan wali kelas Ibu Sartin Agama, kami dididik dan diajar seuai dengan kurikulum yang ada, persaingan untuk menjadi yang terbaik nampak jelas di kelas ini. Oh iya kenangan prestasi dari kami ber 3 (saya, Tresno, Evi) adalah memenangi LCT P-4 Tingkat SLTP dalam rangka Pameran Pembangunan Daerha Kabupaten Banggai, padahal waktu itu kami peserta tambahan karena peserta utama adalah senior kelas 3. Dari babak pertama sampai akhirnya masuk final, itulah perjalanan kami sampai akhirnya di final kami mengalahkan jawara SMP negeri 1 Luwuk kalau gak salah ingat anggotanya (Radia, Jemmy, satunya lagi saya gak ingat), pendamping kami waktu itu Ibu Sartin senang sekali, karena walaupun kami baru kelas 1 tapi bisa menjadi yang terbaik di lomba tersebut. Kenang-kenangan sebuah jam dinding dengan ukiran nama kami bertiga (Maulana, Tresno, Evi) dipasang di kelas kami yaitu kelas 1A. Bangga rasanya bisa mengharumkan nama sekolah waktu itu.

Ibu Sartin selain wali kelas kami juga sebagai pengampu mata pelajaran Sejarah, senjata andalan dari guru kami ini adalah cubitan maut tetapi sebelum cubitan dilayangkan biasanya guru kami ini akan memberikan pertanyaan berkaitan dengan materi yang dijelaskan, kalau gak bisa jawab barulah keluar senjata andalannya. Lumayan sakit dan pedis rasanya, karena sayapun pernah merasakannya dan saya yakin kawan-kawan lainnya juga pernah merasakan. Selain itu juga kami sekelas pun pernah mendapat hantaman mistar di pantat karena kami termasuk murid yang nakal dan suka ribut kalau gak ada guru. Murid-murid juga cukup takut dengan wali kelas kami ini, tapi dibalik itu semua, kecantikan wajahnya menghapus rasa sakit yang ada dan ini diakui oleh hampir semua murid-muridnya terutama yang cowok. Ibu Sartin juga kalau tidak salah merangkap sebagai guru BP (bimbingan penyuluhan). Ruangan Ibu Sartin tersendiri berada dekat kelas 1F bangunan yang lama.

Guru lainnya yang masih saya ingat adalah Ibu Pindorowulan atau dikenal dengan Ibu Pipin. Ibu yang satu ini sebagai pengampu mata pelajaran Biologi. Ibu ini perawakannya kecil mungil tapi senjata andalannya hampir sama dengan guru-guru perempuan lainnya yaitu cubitan maut. Kalau Ibu Pipin sudah masuk kelas, jangan coba-coba untuk ribut atau ngobrol sendiri bisa-bisa Ibu Pipin tidak jadi mengajar karena Ibu Pipin akan ngomel terus bisa sampai 1 jam mata pelajaran habis, itulah akhirnya yang dijadikan senjata murid-murid untuk ribut sehingga jam pelajaran akan berkurang 1 jam he..he.. Cubitan maut Ibu Pipin cukup ampuh karena membekas di kulit biasanya warna merah dan kadang-kadang biru. Senjata andalannya ini juga pernah saya rasakan dan bahkan ada yang tidak terlupakan adalah tamparan Ibu Pipin yang pernah membekas di pipi ini gara-gara kawan saya bernama Sofyan Limpo. Masih teringat dengan jelas gara-gara Sofyan menyemprot saya dengan air dalam botol aqua yang dilubangi atasnya sehingga botol kalau dipencet airnya akan tersemprot mengenai wajah saya. Maksud ingin membalas perbuatan kawan saya itu eh yang kena malah Ibu Pipin maka kami berdua dipanggil ke depan kelas dan mendapat hadiah berupa tamparan di pipi. Itulah pertama kali saya ditampar oleh seorang guru ternyata rasanya sakit buanget. Saya akhirnya dicap sebagai murid nakal. (to be continued..)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.